Powered by Blogger.

ARSIP

TRAVELINEWS

TRAVELINEWS

TRANSLATE

PENGUNJUNG

Showing posts with label SITUS. Show all posts
Showing posts with label SITUS. Show all posts

Situs Purbakala Pugung Raharjo

Anda penyuka sejarah? Belum lengkap kiranya jika Anda datang ke Lampung belum mengunjungi Situs Purbakala Pugung Raharjo. Situs purbakala ini merupakan situs arkeologi yang terletak di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung.

Di dalam kompleks situs ini terdapat peninggalan dari masa kebudayaan megalit, seperti arca, punden berundak, batu mayat (batu kandang), altar batu, menhir, batu berlubang, dan dolmen peninggalan dari periode klasik, berupa batu prasasti dan keramik asal Dinasti Han, Sung, dan Ming. Lokasi keberadaan taman purbakala ini dikelilingi oleh tanggul, yang terkait dengan bekas benteng yang juga ditemukan pada kompleks ini.

Lokasi tempat situs berada sekarang dikelola sebagai Taman Purbakala Pugung Raharjo, terletak sekitar 52 km arah timur dari Kota Bandarlampung. Disini beragam jenis peninggalan kepurbakalaan akan Anda lihat. Penasaran? Datang saja ke situs ini. (*)


Prasasti, Bukti Tertulis Peninggalan Sejarah

Berkunjung ke Lampung tertarik untuk melihat peninggalan sejarah berupa prasasti? Disini, kami sempat mencatat beberapa nama prasasti dan lokasinya yang dapat Anda lihat di Provinsi Lampung.
 Dalam penelitian arkeologi dan sejarah, prasati sering berperan sebagai sumber sezaman yang amat penting. Karena memberikan sejumlah informasi mengenai aspek-aspek kehidupan masyarakat lampau. Dari daerah Lampung, sampai saat ini sedikitnya telah ditemukan 8 prasasti yang berasal dari zaman Hindu-Budha, meliputi kurun waktu abad ke 7 sampai 15 Masehi. Kedelapan prasasti tersebut adalah:
 1. Prasasti Palas Pasemah (akhir abad ke 7)
 Prasasti ini telah diketahui keberadaannya pada tahun 1958 di Desa Palas Pasemah dekat Kalianda Kabupaten Lampung Selatan. Prasasti ini ditulis dalam 13 baris, berhuruf Pallawa dan Bahasa Melayu Kuno. Isinya hampir sama dengan isi prasasti Karang Brahi dari Daerah Jambi, Prasasti Kota Kapur dari Bangka dan Prasasti Bungkuk dari Daerah Lampung Timur, yang berisi kutukan yang tidak patuh dan tunduk kepada penguasa Sriwijaya. Prasasti ini tidak berangka tahun, namun berdasarkan Paleografinya dapat pada akhir abad ke 7.
2. Prasasti Bungkuk (akhir abad ke 7)
 Ditemukan pada tahun 1985, di Desa Bungkuk, Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Prasasti ini seluruhnya terdiri dari 12 dan 13 baris tulisan berhuruf  Pallawa dan Melayu Kuno. Keadaannya sudah sangat aus dan rusak, beberapa baris pertama dan terakhir tidak dapat dibaca sama sekali. Dari baris-baris yang dapat dibaca isinya berupa kutukan yang sama dengan yang terdapat pada prasasti Palas Pasemah. Prasasti Karang Brahi dan Prasasti Kota Kapur merupakan Prasasti Sriwijaya dari akhir abad ke 7.
3. Prasasti Batu Bedil (akhir abad ke 9 atau 10)
 Prasasti ini di temukan di Desa Batu Bedil, Kecamatan Pulau Punggung, Kabupaten Tanggamus. Prasasti dipahatkan pada sebuah batu berukuran tinggi 175 cm, lebar 60 cm, dan tebal 45 cm, sebanyak 10 baris dengan huruf Jawa Kuno akhir abad ke 9 atau awal abad ke 10, berbahasa Sansekerta. Prasasti ditulis dengan huruf berukuran cukup besar (tinggi huruf sekitar 5 cm), namun karena batunya sangat using, terutama di bagian tengah maka tidak seluruhnya dapat dibaca. Dari beberapa baris yang dapat diketahui dapat diketahui isinya merupakan semacam doa-doa yang bersifat Budhis.
4. Prasasti Hujunglangit/Bawang (akhir abad ke 10)
Prasasti ini terdapat di Desa Hanakau, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat. Penemuan pertama kali dilaporkan oleh petugas dinas Topografi yang mengadakan pemetaan pada tahun 1912. Oleh Tim Epigrafi Dunia Purbakala, prasasti ini disebut juga prasasti Bawang, karena tempat penemuannya berada di wilayah Bawang. Prasati ini disebut juga Prasasti Hujunglangit yaitu berdasarkan nama tempat yang disebutkan di dalam prasasti tersebut.
Batu prasasti berbentuk menyerupai kerucut dengan ukuran tinggi dari permukaan tanah 160 cm, lebar bawah 65 cm, lebar atas 25 cm. Bagian yang ditulisi prasasti permukaannya hampir rata, terdiri dari 18 baris tulisan dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno.
 Dari akhir abad ke 10, prasasti ini sudah aus dan tulisannya sangat tipis sehingga sulit untuk pembacaan yang menyeluruh. Berdasarkan asalnya, kata Sa – tanah dan sahutan dengan nama tempat Hujunglangit, dapat member petunjuk bahwa prasasti berkaitan dengan penetapan suatu daerah menjadi sima, daerah perdikan, seperti yang terdapat pada prasasti-prasasti yang ada di zaman Hindu-Budha.
 Penetapan suatu daerah menjadi sima, umumnya berkenaan dengan adanya suatu bangunan suci yang terdapat di suatu daerah. Di atas bidang yang tertuilis ada gambar pisau belati, ujung belati menghadap ke kanan. Gambar pisau belati ini serupa dengan belati tinggalan kerajaan Pagaruyung yang diberi nama Si Madang Sari. Menurut dinamis, belati dari Pagaruyung ini dibuat pada abad XIV M, jadi sekitar 300 tahun lebih muda dari prasasti Hujunglangit. Relief pisau dijumpai pula pada Candi Panataran, yang bentuknya serupa dengan belati Si Madang Sari.
 5. Prasasti Tanjung Raya I (sekitar abad ke 10)
 Batu tertulis berbentuk lonjong berukuran panjang 237 cm, lebar di bagian tengah 180 cm dan tebal 45 cm. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1970 di Desa Tanjung Raya I, Kecamatan Sukau, Lampung Barat. Prasasti dituliskan pada bagian permukaan batu yang keadaannya sudah aus dan rusak, terdiri dari 8 baris dan sulit dibaca namun masih dapat dikenal sebagai huruf Jawa Kuno dari abad ke 10. Pada bagian atas terdapat sebuah gambar berupa sebuah bejana dengan tepian yang melengkung keluar sehelai daun. Mengingat sulitnya pembacaan prasasti ini maka isinya belum diketahui.
 6. Prasasti Ulubelu (abad ke 14)
 Prasasti dipahatkan pada sebuah batu kecil berukuran 36 x 12,5 cm, terdapat 6 baris tulisan dengan huruf Jawa Kuno dan berbahasa Melayu Kuno. Prasasti ditemukan di Ulebelu, Rebang Pugung, Kabupaten Tanggamus pada tahun 1934. Sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Keadaan prasasti sudah tidak utuh, bagian ujung kiri dan kanan telah patah sehingga beberapa kata dan huruf sebagian hilang. Isinya berkenaan dengan pemujaan terhadap Trimurti (Batara Guru, Batara Brahma, Batara Wisnu). Diperkirakan berasal dari abad ke 14 M.
7. Prasasti Angka Tahun (abad ke 14)
 Pada tahun 1993 ketika diadakan eskavasi di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, ditemukan sebuah prasasti Angka Tahun yang dipahatkan pada sepotong batu tufa berbentuk balok. Prasasti ditulis dengan angka Jawa Kuno, menunjuk pada tahun Saka 1247 (1325 M).
8. Prasasti Dadak/Bataran Guru Tuha (abad ke 15)

 Prasasti ditemukan di Dusun Dadak, Desa Tebing, Kecamatan Perwakilan Melintang, Lampung Timur pada tahun 1994. Prasasti ditulis dalam 14 baris tulisan, disamping terdapat pula tulisan-tulisan singkat dan gambar-gambar yang digoreskan memenuhi seluruh permukaan batunya yang berbentuk seperti balok berukuran 42 cm x 11 cm x 9 cm. Tulisan yang digunakan mirip dengan tulisan Jawa Kuno akhir dari abad ke 15 dengan Bahasa Melayu yang tidak terlalu Kuno (Bahasa Melayu Madya). (*)

Mencari Jejak Kerajaan Tulang Bawang

Anda tertarik wisata sejarah, ziarah, riset, penulisan atau menelusuri jejak Kerajaan Tulang Bawang? Nah, tak ada salahnya jika Anda berkunjung ke Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tuba Barat) dan Tulang Bawang (Tuba), Provinsi Lampung. Kedua kabupaten ini –pemekaran dari kabupaten induk Tulang Bawang — diyakini pernah menjadi pusat Kerajaan Tulang Bawang, salah satu kerajaan tertua di Indonesia.

Nama Kerajaan Tulang Bawang (To-La P’o-Hwang atau To-Lang Po-Hwang) sempat dikenal di tanah air. Meski tidak secara terperinci menjelaskan, sejumlah peninggalan, riwayat sejarah maupun catatan penziarah asal daratan Cina mengungkap akan keberadaan daerah kerajaan ini. Prasasti (batu bertulis) Kedukan Bukit yang ditemukan di Palembang menyebut, saat itu Kerajaan Sriwijaya (Che-Li P’o Chie) telah berkuasa. Ekspedisinya menaklukkan daerah-daerah lainnya, terutama dua pulau yang berada di bagian barat Indonesia. 

Sejak itu, nama dan kebesaran Kerajaan Tulang Bawang yang sempat berjaya akhirnya lambat laun meredup. Kerajaan Sriwijaya yang dikenal sebagai kerajaan maritim terus berkembang pesat. Sementara, nama To-Lang Po-Hwang nyaris tidak terdengar lagi. Tapi, kemudian Tulang Bawang kembali disebut-sebut sumber asing, diantaranya Cina, Portugis, Belanda serta sumber dari dalam negeri, seperti Kesultanan Banten dan Palembang. 

Banyak pertanyaan diajukan mengenai keberadaan Kerajaan Tulang Bawang. Sejarah Indonesiaserta keyakinan masyarakat Lampung menyatakan, suatu masa ada sebuah kerajaan besar diwilayah ini. Kerajaan itu sudah terlanjur menjadi identitas Provinsi Lampung dalam konteks Indonesia modern. Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya mengemuka, bagaimana asal mula berdirinya Kerajaan Tulang Bawang, di mana pusat kerajaan, siapakah raja memerintah serta siapa pula pewaris tahtanya hingga sekarang?. Itu yang masih di nanti jawabannya sampai saat ini.

Sejumlah sejarawan, antropologarkeolog, bahkan pemerintah kabupaten (Pemkab) dan Provinsi Lampung pun berusaha keras menemukan kembali rangkaian sejarah yang ‘hilang’ tersebut. Para arkeolog maupun peneliti lain pernah melakukan penelitiannya di Tulang Bawang dan sekitarnya. Namun hasilnya belum juga begitu memuaskan. Beberapa penemuan belum mengarah ke klimaks sebenarnya. Namun walau hingga kini situs pusat Kerajaan Tulang Bawang belum dapat dilacak keberadaannya secara pasti, usaha-usaha untuk meneliti dan menggali jejak-jejak peninggalannya perlu terus dilakukan.  

Dalam perkembangan sejarah kebudayaan dan perdagangan di Nusantara digambarkan, Kerajaan Tulang Bawang merupakan salah satu kerajaan tertua di Indonesia, di samping Kerajaan Melayu, Sriwijaya, Kutai dan Tarumanegara. Bahkan, dikisahkan Kerajaan Tulang Bawang yang pernah ada di Pulau Sumatera (Swarna Dwipa) tercatat sebagai salah satu kerajaan tertua di Tanah Andalas. Hal itu dibuktikan dari sejumlah temuan, baik berupa makam tokoh-tokoh serta beberapa keterangan yang menyebut keberadaan kerajaan di daerah selatan Pulau Sumatera ini.      

Kebudayaan Tulang Bawang, tradisi dan kebudayaan lanjutan dari peradaban Skala Brak.Karena dari empat marganya, Buay Bulan, Buay Tegamoan, Buay Umpu serta Buay Aji, di mana salah satu buay tertuanya Buay Bulan, jelas bagian dari Kepaksian Skala Brak, Cenggiring. Buay Bulan, keturunan Putri Si Buay Bulan. Buay itu melakukan migrasi ke daerah Tulang Bawang bersama dua marga lainnya, yakni Buay Umpu dan Buay Aji. Dengan demikian, adat budaya suku Lampung Tulang Bawang dikatakan lanjutan dari tradisi peradaban Skala Brak yang telahberasimilasi dengan tradisi dan kebudayaan lokal. Asimilasi terjadi dimungkinkan sekali sudah ada sebelumnya atau sebelum mendapatkan pengaruh dari Kepaksian Skala Brak.     

Kebudayaan Tulang Bawang merupakan penyimbang punggawa dari Kepaksian Skala Brak, satu kesatuan dari budaya-budaya dan etnis Lampung lain, seperti Keratuan Semaka, Keratuan Melinting, Keratuan Darah Putih, Keratuan Komering, Sungkai Bunga Mayang, Pubian Telu Suku, Buay Lima Way Kanan, Abung Siwo Mego dan Cikoneng Pak Pekon. Pembagian dan pengaturan wilayah-wilayah kekuasaan diatur Umpu Bejalan Diway. Pengaturannya berdasarkan daerah-daerah yang dialiri sungai/way. Secara harfiahbu-way atau buay (buai) berarti pemilik sungai/way atau pemilik daerah kekuasaan yang wilayahnya dialiri sungai.  
Bagi warga Tulang Bawang, terjadinya perpindahan penduduk yang ada di daerah ini bukan suatu hal aneh dan baru. Transmigrasi maupun imigrasi ke wilayah Tulang Bawang, sudah dikenal sejak kedatangan suku bangsa dari negara lain di luar Indonesia. Mereka datang dari negeri jauh,mencari penghidupan menempati suatu tempat.  

Diriwayatkan, dalam abad ke V Masehi berpindah suku bangsa beragama Hindu dari Vietnam ke wilayah IndonesiaPerpindahan terjadi tidak hanya sekali, tetapi berlangsung secarabergelombang dan berkelompok-kelompok. Mereka berimigrasi dari satu negara ke negara lain. Di negara baru, mereka pertama kali berpondok dan berladang atau berhuma di Gunung Pesagi. Kelompok maupun gelombang-gelombang berikutnya juga berhuma dan berladang di Skala Brak.Melalui perpindahannya kedua, suku bangsa dari Vietnam itu diduga mendirikan Kerajaan Tulang Bawang.
Beratus-ratus tahun lamanya mereka berdiam di sini. Sebagian mencari daerah lebih subur dan aman serta lokasi bertani lain. Nenek moyang yang menjadikan Kerajaan Tulang Bawang menyusur ke hulu Sungai Tulang Bawang dan menetap di situ. Demikian juga dari Skala Brak menyusulberpindah pula. Mereka ada yang berpindah ke Lampung Utara (Lampura), Lampung Tengah(Lamteng) hingga Lampung Selatan (Lamsel) sekarang. Akhirnya, kelompok-kelompokmendirikan keratuan-keratuan di Lampung. Baik yang menjadikan keratuan maupun mendirikan Kerajaan Tulang Bawang, dinamakan transmigrasi maupun imigrasi. Mereka berpindah dari satu tempat ke yang baru dalam suatu wilayah atau satu negara.

Semasanya, daerah ini terbentuk suatu sistem demokratis dikenal dengan marga. Marga dalam bahasa Lampung disebut dengan  mego/megou. Sementara, mego-lo bermakna marga yang utama. Sewaktu masuknya pengaruh Devide Et Impera, penyimbang marga yang harus ditaati pertama kalinya disebut dengan Selapon. Sela berarti duduk bersila atau bertahta. Sedangkan, pon/punartinya orang yang dimulyakan. Ketika syiar ajaran agama Hindu sudah masuk ke daerah Selapon, mereka yang berdiam serta menetap di Selapon mendapat gelaran Cela Indra atau dengan istilah populer lagi dikenal sebutan Syailendra atau Syailendro yang berarti bertahta raja.        

Menurut tradisi lisan, mengenai penamaan Tulang Bawang salah satu sumber menyebutkan, sesuai dengan Kerajaan Tulang Bawang yang hingga kini belum didapat secara mutlak, baik keraton maupun rajanya, demikian juga peninggalan-peninggalannya, bahkan abad berdirinya pun tak dapat dipastikan, sifat-sifat ini sama halnya dengan sifat bawang. Bentuk bawang dikatakan bertulang di mana tulangnya. Semakin dicari semakin hilang (kecil). Sampai habis tidak bertemu dengan tulangnya.

Riwayat kedua, dulu menurut cerita raja Kerajaan Tulang Bawang banyak musuh. Semua musuh-musuhnya harus dibunuh. Mayat-mayat mereka dibuang di bawang atau lebak-lebak. Lama-kelamaan mayat-mayat itu akhirnya tertimbun didalamnya. Tinggal tumpukan tulang-tulang manusia memenuhi bawang/lebak-lebak di sungai ini. Sejak itu, sungai tersebut dinamai Sungai Tulang Bawang.

Riwayat ketiga, sewaktu zaman raja Tulang Bawang pertama sekitar abad ke 4 Masehi, dikisahkan suatu ketika permaisurinya menghanyutkan bawang di sungai. Kini sungainya dikenal dengan sebutan Way Tulang Bawang. Kemudian permaisuri menyumpah-nyumpah, “Sungai Bawang”-lah ini. Begitu sumpahannya ke sungai yang menghanyutkan bawang. Sejak itu, sungai tersebut dinamakan Sungai Tulang Bawang atau Kerajaan Tulang Bawang. 

Bila menggunakan pendapat Yamin, penamaan Tolang P’o-Hwang akan berarti ”Orang Lampung” atau ”Utusan dari Lampung” yang datang ke negeri Cina abad ke 7 Masehi. Yamin mengatakan, perbandingan dari bahasa-bahasa Austronesia dapat memisahkan urat kata untuk menamai kesaktian itu dengan nama asli, yaitu tu (to, tuh) yang hidup. Misalnya, dalam kata-katatu-ah, ra-tu, Tu-han, wa-tu, tu-buh, tu-mbuhan dan lain-lain.   
          
Berhubung dengan urat kata asli tu (tuh-to) menunjukkan zat kesaktian menurut perbandinganbahasa rumpun Austronesia, baik pula diperhatikan urat itu terdapat dalam kata-kata seperti to(orang dalam bahasa Toraja), tu (Makasar dan Bugis). Dengan demikian, makna To-Lang P’o-Hwang berarti To= orang dan Lang P’o-Hwang= Lampung. Semenjak itu, orang-orang menyebut daerah ini dengan sebutan Lampung.

Menurut tuturan rakyat, Kerajaan Tulang Bawang berdiri sekitar abad ke 4 Masehi atau sekitartahun 623 Masehi. Namun ada juga menyebutkan kerajaan ini berdiri sekitar tahun 771 Masehi.Rajanya pertama Mulonou Jadhi (EYD= Mulonou Jadi). Raja Mulonou Jadi di masa kemudiannya oleh masyarakat dikenal lagi dengan nama Mulonou Aji dan Mulonou Haji. 
Walaupun sudah sejak 651 Masehi utusan dari Khalifah Usmar bin Affan, yaitu Sayid Ibnu Abi Waqqas sudah  bertransmigrasi ke Kyang Chou di negeri Cina dan meskipun dikatakan utusan Tulang Bawang pernah datang ke negeri Cina dalam abad ke 7 Masehi, namun rupanya orang-orang Lampung yang tinggal kala itu belum beragama Islam.        
     
Setelah memerintah kerajaan, berturut-turut Raja Mulonou Jadi digantikan para putra mahkota, masing-masing disebutkan namanya Rakehan Sakti, Ratu Pesagi, Poyang Naga Berisang, Cacat Guci, Cacat Bucit, Minak Sebala Kuwang dan Runjung atau lebih dikenal dengan nama Minak Tabu GayauDiperkirakan, Runjung memerintah Tulang Bawang sekitar abad ke 9 Masehi.    

Rakehan Sakti atau Umpu Kesaktian, raja kedua Kerajaan Tulang Bawang menggantikan Maulano Jadi. Dalam riwayatnya, Rakehan Sakti menikah dengan Dayang Metika gelar Bidadari Angsa, anak bai Umpu Kuasa Buay Semenguk gelar Ratu Pesagi Nyerupa. Dari perkawinan ini, lahir seorang anak laki-laki dan seorang perempuan. Nama kedua anaknya Junjungan Sakti dan Putri Bulan.

Poyang Junjungan Sakti kemudian menurunkan Naga Berisang. Selanjutnya, Naga Berisang menurunkan Runjung/Tabu Gayau. Sementara, Putri Indra Bulan menurunkan Putri Bulan Bara, yang kelak menikah dengan Empu Rakihan gelar Ratu Di Belalau/Umpu Belunguh atau Umpu Ngegalang Paksi nenek moyang Skala Brak. Puyang Naga Berisang nama kecilnya Mandala Bulan. Dalam kisahnya, Naga Berisang menikah dengan Putri Dayang Metika menurunkan Putri Indera Bulan gelar Putri Indrawati. Dalam kisah itu, Putri Indera Bulan menikah dengan Raja Sangara gelar Kun Tunggal anak Raja Dewata Siliwangi. 

Riwayat lain menyebutkan, Puyang Naga Berisang diperkirakan berasal dari Tiongkok Selatan. Bisa jadi, riwayat ini merunut dari asal-usul keluarganya. Setelah dia menikah dengan putri dari Rumpun Seminung, keturunannya menyebar ke daerah Way Kanan, Tulang Bawang (Lampungdan Komering (Sumatera Selatan). Diperkirakan, puyang ini datang ke daerah Rumpun Seminung abad ke 14 Masehi.

Dari pernikahan Empu Rakihan gelar Ratu Di Belalau/Umpu Belunguh/Umpu Ngegalang Paksi dengan Putri Bulan Bara jurai dari Putri Indera Bulan menurunkan Buay Menyata dan Buay Turgak. Dalam perjanjian, Buay Menyata dan Buay Turgak tidak ikut klan Empu Rakihan gelar Ratu Di Belalau/Umpu Belunguh atau Umpu Ngegalang Paksi, tetapi ikut klan ibunya jurai Putri Indera Bulan. 
Kemudian, Empu Rakihan kawin dengan Putri Sindi anak dari Putri Sekeghumong. Merekamenetap di Ranji Pasai dekat Kenali. Dari perkawinannya lahir Empu Belunguh, Empu Nyerupa, Empu Pernong dan Empu Bejalan Di Way. Tetapi, menurut keterangan lainnya, Empu Pernong dan Empu Bejalan Di Way berasal dari Dharmas Raya. Keempat empu ini cikal bakal Paksi Pak Skala Brak. 

Sumber lain menuturkan, berdasarkan data Keraton Kesepuhan Cirebon, nama asli raja-raja Kerajaan Tulang Bawang dari abad ke 5 hingga 15 Masehi, terdiri dari 12 raja-raja dari zaman Hindu. Rajanya ke sebelas bernama Rio Mangku Bumi Kamantaka Bumiloka. Raja ke 12 namanya Sang Pragadewa Gramanta Sindra Sisi Ceki Balawa Sinta Madya Kamala Bumi. Masyarakat Pagar Dewa mengenal raja terakhir ini namanya Minak Pati Pejurit atau Minak Pati Prajurit gelar dariMinak Kemala Bumi. Dia disebut salah seorang tokoh yang mengislamkan tanah Lampung.

Runjung (Minak Tabu Gayau) memiliki 3 putra mahkota. Ketiga putranya, masing-masing Tuan Rio Mangku Bumi, Tuan Rio Tengah dan Tuan Rio Sanak. Tuan Rio Mangku Bumi pewaris tahta kerajaan di Pedukuhan Pagar Dewa. Hulubalangnya Cekay Di Langek dan Tebesu Rawang. Tuan Rio Tengah mempertahankan wilayah sekitar Rantaou Tijang, di Menggala sekarang. Sementara, Tuan Rio Sanak mempertahankan wilayah daerah Panaragan dengan panglimanya Gemol (Minak Indah).

Dalam tuturan itu dikatakan pula, untuk mengawasi daerah perbatasan, seperti Mesuji, Teladas, Gedung Meneng, Gunung Tapa, Kota Karang Mersou, Gedung Aji, Bakung dan Menggala, setiap tempat dijaga para panglima. Keberadaan panglima-panglima di perbatasan guna mengamankan wilayah dari serangan musuh, baik dari luar maupun dalam negeri sendiri.     
           
Semasa Minak Pati Pejurit (Minak Kemala Bumi), terlihat benar susunan struktur pertahanan. Tiap-tiap kampung dijaga panglima-panglimanya. Seperti di Kampung Dente Teladas, dijaga Panglima Batu Tembus dan Minak Rajawali. Tugas keduanya menjaga pos pertahanan pertama dari laut. Arah ke hulu, Kampung Gedung Meneng, Gunung Tapa dan Kota Karang, panglimanya Minak Muli dan Minak Pedokou. Untuk pertahanan, tempat ini dijadikan pusat pertahanan kedua. Sedangkan, Kampung Meresou atau Sukaraja, dijaga Panglima Minak Pati Ngecang Bumi dan Minak Pati Baitullah. Mereka bertugas memeriksa (meresou) setiap musuh yang masuk ke Tulang Bawang.

Minak Kemala Bumi atau dikenal Haji Pejurit keturunan raja Kerajaan Tulang Bawang yang telah beragama Islam. Ia lahir dan wafat di abad ke 16 Masehi. Minak Kemala Bumi, salah satu penyebar agama Islam di Lampung dan keturunan dari Tuan Rio Mangku Bumi, raja terakhir yang masih beragama Hindu. Haji Pejurit atau Minak Pati Pejurit atau Minak Kemala Bumi, dikabarkanmendalami ajaran agama Islam berguru dengan Prabu Siliwangi (Jawa Timur). Dia memperistri Ratu Ayu Kencana Wungu putri Prabu Siliwangi. Anak cucu dari keturunan mereka menurunkan Suku Bujung dan Berirung. 

Selain catatan dan riwayat, bukti yang menguatkan adanya Kerajaan Tulang Bawang, diantaranya terdapat sejumlah makam raja-raja di Pagar Dewa dan sekitarnya. Tuan Rio Mangku Bumi makamnya berada di Pagar Dewa, Tuan Rio Tengah dimakamkan di Meresou dan Tuan Rio Sanak makamnya berada di Gunung Jejawi, Panaragan. Selain itu, ada pula makam para panglima yang pusaranya berada di sejumlah tempat. 

Tuturan rakyat lain mengatakan, raja Kerajaan Tulang Bawang bernama Kumala Tungga. Tak dapat dipastikan dari mana asal raja maupun tahun memerintahnyaDiperkirakan, Raja Kumala Tungga memerintah kerajaan sekitar abad ke 4 dan 5 Masehi. Dalam tuturan, sampai kini belum ada yang bisa memastikan nama jelas raja-raja Kerajaan Tulang Bawangtahun berdiri hingga pusatpemerintahan kerajaannya. Tapi, ahli sejarah Dr. J.W. Naarding memperkirakan pusat kerajaan terletak di hulu Way Tulang Bawang, antara Menggala dan Pagar Dewa, kurang lebih dalam radius 20 kilometer dari pusat ibukota kabupaten, Kota Menggala.         

Meski belum dapat kepastian letak pusat pemerintahan Kerajaan Tulang Bawang, berdasarkan riwayat sejarah dari warga setempat pemerintahannya diperkirakan berpusat di Pedukuhan, di seberang Kampung Pagar Dewa. Kampung ini letaknya berada di Kecamatan Tulang Bawang Tengah, yang sekarang tempat itu kampung/desa di Kabupaten Tulang Bawang Barat, pemekaran dari Kabupaten Tulang Bawang. 

Mengenai pusat pemerintahan kerajaan, sekitar tahun 1960-an terjadi peristiwa mistis yang dialami Murod. Ia salah seorang warga Kampung Pagar Dewa. Kejadian dialaminya seakan menjadi sebuah ‘petunjuk’ keberadaan kerajaan yang sampai sekarang letak pusat pemerintahannya belum juga ditemukan secara pasti. Waktu itu, Murod tengah mencari rotan di Pedukuhan. Tiba-tiba dia ‘tersesat’ ke sebuah tempat. Keberadaan tempat dimaksud masih asing baginya. Di sana, Murod melihat sebuah rumah yang atapnya terbuat dari ijuk. Pekarangannya terdapat taman. Didalam rumah itu, dilihatnya ada kursi kerajaan terbuat dari emas, gong serta perlengkapan lainnya.Begitu dia tersadar, apa yang sudah dilihatnya seketika hilang dari pandangan.

Meningkatnya kekuasaan Kerajaan Sriwijaya akhir abad ke 7 Masehi, disebut dalam sebuah inskripsi batu tumpul Kedukan Bukit di kaki Bukit Seguntang, sebelah barat daya Kota Palembangsekarang mengatakan, tahun 683 Kerajaan Sriwijaya telah berkuasa, baik di laut maupun darat.Dalam tahun tersebut, berarti kerajaan ini sudah mulai meningkatkan kekuasaannya. 

Berselang tiga tahun berikutnya dalam tahun 686, negara ini mengirimkan ekspedisinyamenaklukkan daerah-daerah lain di Pulau Sumatera dan Jawa. Karenanya, diperkirakan semenjak masa itu Kerajaan Tulang Bawang sudah dikuasai Kerajaan Sriwijaya. Bukti dugaan penaklukan Kerajaan Sriwijaya di wilayah Lampung dengan ditemukannya prasasti di daerah Lampung Selatan.Selanjutnya, daerah ini tidak lagi berperan di pantai timur Lampung.     


Seiring dengan semakin berkembangnya Kerajaan Che-Li P’o Chie (Sriwijaya), nama dan kebesaran Kerajaan Tulang Bawang sedikit demi sedikit semakin pudar. Dengan bertambah pesatnya kejayaan Kerajaan Sriwijaya yang disebut-sebut sebagai kerajaan maritim dengan wilayahnya yang luas, sulit sekali mendapatkan secara terperinci mengenai sejarah perkembangan Kerajaan Tulang Bawang.


Sumber lain menyebutkan, Kerajaan Sriwijaya federasi atau gabungan antara Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tulang Bawang (Lampung). Semasa kekuasaan Sriwijaya, pengaruh ajaran agama Hindu sangat kuat. Orang Melayu yang tidak dapat menerima ajaran tersebut menyingkir ke Skala Brak. Sebagian orang Melayu yang menetap di Megalo (Menggala) masih menjaga dan mempraktekkan budayanya sendiri yang masih eksis. Abad ke 7 Masehi, salah satu sumber menyebut nama Tola P’ohwang/To-Lang Po-Hwang diberi nama lain, yaitu Selampung yang dikenal dengan nama Lampung.

Situs Batu Bedil

PENYUKA sejarah, jangan lewatkan melihat situs kepurbakalaan yang satu ini. Situs Batu Bedil namanya. Situs Batu Bedil berlokasi di Desa Batu Bedil, Kecamatan Pulau Panggung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, dan berada di dataran tinggi sekitar 370 meter. Dataran ini rangkaian paling ujung selatan dari Bukit Barisan yang membentang di atas patahan Way Semangka. Di sebelah selatan situs mengalir Sungai Ilahan, anak Sungai Sekampung. Sedangkan, di sebelah utara situs mengalir sungai kecil yang disebut Sungai Anak. Diantara situs dan kedua sungai tersebut terdapat lereng curam dengan kemiringan 45°–60°. Situs Batu Bedil terletak tepi jalan yang menghubungkan Desa Talang Padang dan Desa Air Bakoman. Sekitar situs umumnya kebun penduduk yang ditanami kopi.
Situs Batu Bedil merupakan kompleks, terdiri dari sejumlah menhir dan satu prasasti. Kompleks Batu Bedil menempati lahan seluas sekitar 100 x 500 meter. Meskipun demikian sebagian besar lahan tersebut masih merupakan milik penduduk. Sekarang di lokasi ini telah dibuat taman oleh Pemerintah Daerah Lampung di dua tempat, yaitu disebut Kompleks Batu Bedil I atau kompleks megalitik dan prasasti serta Kompleks Batu Bedil II. Kompleks Batu Bedil I berada di sebelah barat dan Kompleks Batu Bedil II berada di sebelah timur. Kedua lokasi kompleks berjarak sekitar 100 meter.
Antara isi Prasasti Batu Bedil dengan tinggalan arkeologis yang lain terlihat ada kesesuaian, terutama menyangkut aspek religi. Menhir, Batu Gajah dan Batu Kerbau menunjukkan tinggalan yang ada kaitannya dengan kepercayaan tradisi megalitik. Menhir, batu tegak yang sudah dikerjakan atau belum, diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati arwah nenek moyang dan pengharapan kesejahteraan bagi yang masih hidup. Menhir dapat berdiri tunggal maupun berkelompok membentuk formasi tertentu.
Menhir yang ditemukan di daerah Pulau Panggung membentuk formasi segi empat. Susunan menhir dengan formasi segi empat juga ditemukan di daerah lain, misalnya di Pugung Raharjo. Menhir seringkali juga ditemukan bersama-sama dengan bangunan megalitik lainnya, seperti bangunan berundak, dolmen, lesung batu dan arca-arca megalitik.
Arca megalitik yang terdapat di Pulau Panggung berbentuk gajah dan kerbau. Arca-arca megalitik yang menggambarkan binatang juga ditemukan di daerah lain, misalnya di Palembang dan di Dataran Tinggi Pasemah. Penggambaran gajah dan kerbau menunjukkan adanya hubungan antara manusia dengan binatang tersebut. Pembuatan arca binatang pengharapan agar hubungan dapat berlangsung dengan baik. Dengan demikian, dapat menjamin kehidupan manusia menjadi lebih tenang dan tenteram. Selain itu, gajah dan kerbau dapat juga diartikan sebagai lambang kendaraan bagi arwah.
Kompleks Batu Bedil I atau kompleks megalitik dan prasasti berada pada lahan seluas 100 x 50 meter. Kompleks ini berada di lahan datar yang lebih tinggi dari daerah sekitarnya. Oleh Pemerintah Daerah Lampung, di lahan ini telah dibuat taman yang dilengkapi dengan jalan setapak, tempat beristirahat dan rumah informasi. Kompleks Batu Bedil I atau kompleks megalitik dan prasasti juga telah di pagar kawat. Pemagaran pertama dilakukan P3SPL (Proyek Pelaksana Peninggalan Sejarah dan Purbakala Provinsi Lampung) tahun 1991. Pintu masuk lahan berada di sebelah selatan. Di lahan ini, selain terdapat prasasti juga terdapat sekelompok menhir membentuk formasi segi empat. Di samping itu, di lokasi ini pun terdapat sebaran batu-batu besar.
Lokasi prasasti berada di titik koordinat 05°18,637’ LS dan 104°42,041’ BT (pembacaan dengan GPS Garmin V). Prasasti dituliskan di sebongkah batu berukuran panjang 185 centimeter, lebar 72 centimeter dan tebal 55 centimeter. Tulisan prasasti digoreskan di bagian batu menghadap ke utara. Prasasti terdiri 10 baris dengan tinggi huruf sekitar 5 centimeter. Tulisannya berada dalam satu bingkai. Di bagian bawah bingkai terdapat goresan membentuk padma atau bunga teratai. Kondisi huruf sudah aus sehingga banyak huruf sudah tidak terbaca lagi.
Di sebelah barat prasasti terdapat 14 menhir membentuk formasi segi empat. Menhir-menhir berasal dari batu alam yang tidak menunjukkan tanda-tanda pengerjaan manusia. Selain menhir, di lahan ini terdapat sejumlah batu besar. Dilihat dari bentuknya, batu-batu kemungkinan sebagai menhir maupun dolmen. Berdasarkan pengamatan terhadap permukaan tanah, didapatkan adanya temuan artefaktual, berupa pecahan keramik dan tembikar.
Sebaran batu yang terdapat di daerah Batu Bedil juga dapat ditemukan di beberapa lokasi di luar lahan berpagar. Di sebelah barat pagar kompleks prasasti, berjarak sekitar 50 meter terdapat batu lumpang. Masyarakat setempat menamakannya Batu Lesung. Di dekat Batu Lesung terdapat 3 batu datar. Di sebelah selatan pagar sekitar 50 meter terdapat sebaran batu alam mengelompok. Sebaran batunya berada di kebun kopi milik penduduk.
Sementara, Kompleks Batu Bedil II berada di sebelah timur Kompleks Batu Bedil I berjarak sekitar 100 meter. Kompleks Batu Bedil II menempati lahan seluas sekitar 50 X 40 meter. Kompleks Batu Bedil II sekarang telah dibuat menjadi taman. Di lokasi ini dibuatkan tempat istirahat dan diberi pagar kawat oleh P3SPL tahun 1993. Bagian tengah lahan terdapat jalan setapak.
Tinggalan yang terdapat di Kompleks Batu Bedil II, antara lain batu bergores, meja batu (dolmen), batu lumpang dan sejumlah menhir. Batu bergores di lokasi ini berada di sudut barat daya lahan. Goresan berupa garis-garis sejajar terdapat pada kedua ujung batu. Di sebelah utara batu bergores berjarak sekitar 5 meter terdapat satu batu datar yang ujungnya patah. Di bagian bawah batu datar terdapat batu-batu kecil yang seolah-olah menyangga batu datar itu.
Selain batu bergores dan dolmen, di lahan ini juga terdapat dua lumpang batu. Kedua lumpang batu terletak saling berdekatan di bagian barat lahan situs. Kedua lumpang batu terbuat dari bahan batuan breksi. Disamping itu, di lokasi ini terdapat sebaran sejumlah batu tegak. Batu-batu tersebut terdiri dari batu alam yang tidak menunjukkan adanya pengerjaan manusia. Salah satu batu tegak berukuran tinggi 220 centimeter merupakan batu tertinggi. Batu tegak ini, masyarakat setempat menyebutnya Batu Bedil. Menurut tradisi lisan, batu tersebut dahulu sering terdengar adanya bunyi letusan.
Di sekitar lokasi, penduduk setempat pernah menemukan beliung persegi. Beliung persegi ditemukan dalam kondisi utuh, terbuat dari bahan kalsedon. Warna dasar beliung merah tua dengan bercak-bercak biru, putih dan coklat. Bagian tajaman beliung menunjukkan pemangkasan dengan cara monofacial. Bagian tajamannya tidak menunjukkan adanya bekas pemakaian (perimping). Menurut keterangan, beliung persegi ditemukan diantara Kompleks Batu Bedil I dan Batu Bedil II.
Selain Komplek Batu Bedil I dan II, juga terdapat Situs Gelombang. Lokasi situs berada di sebelah selatan Sungai Ilahan. Oleh masyarakat, lahan situs digunakan sebagai perkebunan kopi. Penamaan Situs Gelombang diberikan masyarakat karena keadaan tanahnya yang terlihat bergelombang atau tidak rata. Setelah dilakukan pengamatan, ternyata keadaan tanah bergelombang disebabkan adanya parit-parit yang digali di permukaan tanah.
Situs Gelombang, dulunya permukiman yang dibatasi fetur benteng tanah dan parit. Unsur religi yang terdapat di situs ini, berupa dua batu datar. Berdasarkan analisis temuan keramik, diketahui keramik yang ada berasal dari Cina, Thailand dan Vietnam. Secara kronologis, keramik-keramik menunjukkan berasal dari Dinasti Tang abad ke 7–10 Masehi, Sung-Yuan abad ke 10–14 Masehi, Thailand dan Vietnam abad ke 16 Masehi dan Dinasti Qing abad ke 17–20 Masehi. Jumlah keramik terbanyak yang ditemukan di situs ini berasal dari Cina masa Dinasti Sung-Yuan abad ke 10–14 Masehi.
Berdasarkan uraian itu dapat diketahui, masyarakat pendukung budaya di daerah Pulau Panggung berasal dari sekitar abad ke 10 Masehi. Kajian dari sisi paleografis pada prasasti juga menunjukkan dari sekitar abad ke 10 Masehi. Berarti, prasasti ini bisa jadi ada setelah Kerajaan Tulang Bawang dan berada di masa Kerajaan Sriwijaya.
Sementara itu, penanggalan Situs Gelombang berdasarkan analisis terhadap temuan keramik diketahui berawal dari sekitar abad ke 7 Masehi, sebelum atau setelah berdirinya Kerajaan Tulang Bawang dan mencapai puncaknya sekitar abad ke 10–14 Masehi. Selanjutnya, situs masih terus dipergunakan sampai awal abad ke 20 Masehi.
Parit 1, melintang dari timur ke barat. Parit 1 berukuran panjang 28,50 meter, lebar 4 meter dan kedalaman 0,5 meter. Parit 1 berada di sebelah selatan tebing berjarak 97 meter. Di sebelah selatan parit 1 terdapat parit 2. Jarak parit 1 dan parit 2 sekitar 110 meter. Parit 2 berukuran panjang 36,80 meter, lebar 6,50 meter dan kedalaman 1 meter. Diantara parit 1 dan parit 2 terdapat dua batu datar yang berjajar barat–timur. Berdasarkan pengamatan terhadap permukaan tanah, didapatkan sebaran artefak, berupa fragmen keramik dan tembikar. Selain itu, di lokasi ditemukan sejumlah batu berbentuk silindris. Batu-batu menyerupai gandik. Permukaan batu kasar, tidak menunjukkan bekas pemakaian.
Di lokasi ini, pernah ditemukan piring keramik oleh seorang penduduk yang tinggal di sekitar situs. Piring didapat dalam keadaan pecah sebagian. Ciri-ciri morfologis artefak; piring berkaki, warna bahan kekuningan, glasir tebal dan warna hijau seladon. Berdasarkan ciri-ciri keramik, secara kronologis berasal dari Cina masa Dinasti Sung abad ke 10–14 Masehi.
Sedangkan, Situs Batu Gajah terdapat di Desa Batu Bedil Hilir. Situs ini berada di tepi jalan yang menghubungkan Desa Talang Padang dengan Air Bakoman. Tepatnya, berada di koordinat 05°18,117’ LS dan 104°40,991’ BT (pembacaan dengan GPS Garmin V). Situs berada di tengah permukiman penduduk yang cukup padat. Situs berada di lahan datar seluas kurang lebih 750 meter persegi. Lahannya dibatasi pagar kawat yang dibuat tahun 1994 oleh P3SPL. Di lahan ini terdapat Batu Gajah, Batu Kerbau dan sejumlah menhir.
Batu Gajah, monolit berukuran tinggi 94 centimeter, lebar 201 centimeter, tebal 164 centimeter dan berbahan tufa. Sisi batu yang menghadap ke selatan terdapat goresan membentuk kepala gajah. Kepala gajah digambarkan secara lengkap dengan belalai, gading, mata dan kuping. Belalai digambarkan menjuntai ke bawah. Sisi kiri dan kanan batu terdapat goresan-goresan membentuk badan dan kaki.
Batu Kerbau berada di sebelah barat Batu Gajah. Batu Kerbau berukuran tinggi 100 centimeter, lebar 140 centimeter, tebal 135 centimeter dan berbahan tufa. Batu Kerbau menghadap ke selatan. Muka digambarkan secara lengkap dengan mulut, hidung dan mata. Goresan sisi selatan membentuk kepala kerbau dengan tanduk melingkar. Di belakang kepala terdapat tonjolan. Bagian ini nampak terdapat dua cekungan. Masing-masing dengan diameter sekitar 5 centimeter dan kedalaman 5 centimeter.
Selain Batu Gajah dan Batu Kerbau, di lahan ini juga terdapat sejumlah menhir yang tidak menunjukkan adanya pengerjaan. Menhir yang terdapat di Situs Batu Gajah berjumlah 12 batu. Bagian paling utara berjajar dua batu, berjarak kurang lebih 8 meter. Di selatan kedua batu berjajar 5 batu dari timur ke barat. Batu ketiga berada paling timur berjarak sekitar 1 meter dari pagar. Di sebelah barat batu, berjarak sekitar 4,5 meter terdapat batu keempat. Batu kelima berjarak sekitar 4 meter dari batu keempat. Di sebelah barat batu kelima berjarak sekitar 5 meter terdapat batu keenam.
Sedangkan, batu ketujuh berada paling barat berjarak sekitar 5,70 meter dari batu keenam. Batu kedelapan dalam Kompleks Batu Gajah berada di sebelah selatan batu keenam, berjarak sekitar 9,50 meter. Selanjutnya, batu kesembilan berada di sebelah barat daya batu kedelapan sekitar 10 meter. Di sebelah barat batu kesembilan, berjarak sekitar 3,45 meter terdapat batu kesepuluh dan kesebelas. Kedua batu ini berjajar utara selatan dan terletak saling berdekatan. Batu kedua belas berada di sudut barat daya berjarak 6,90 meter dari sudut pagar. (*)

 
Copyright © 2014 Travelinews